Hubungan Antara IP Cam Dengan Jasa Pasang CCTV

Hasilnya jika dilihat dari segi penggunaan kabel, IP Cam jauh lebih praktis, ringkas dan rapi jika dibandingkan dengan kamera Analog. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai tegangan listrik. Secara umum, kapasitas daya (watt) pada kebanyakan PoE sudah lebih dari mencukupi untuk dibebani IP cam. Kalaupun sampai terjadi overload, maka yang terjadi hanyalah power yang tidak keluar saja, tanpa menyebabkan camera ataupun PoE menjadi rusak. Selain itu, khusus pada PoE Splitter, di sana ada pilihan tegangan 5V-9V-12V untuk IP cam kita. Seperti mafhum diketahui, tidak semua IP Cam bekerja pada 12V, sehingga dengan adanya pilihan ini kita bisa leluasa dalam memilih produk jual CCTV.

Gambar terkait

Sekalipun saat ini IP Cam sudah semakin populer, namun secara umum jumlah pemasangannya masih relatif sedikit ketimbang camera analog biasa.

Faktor apa saja yang patut dipertimbangkan dalam pemasangan IP Cam, terutama jika jumlah cameranya cukup banyak?

  • Jarak, Faktor ini kami tempatkan pada point pertama, karena akan berkaitan dengan penarikan kabel antara camera dengan network switch. Dalam banyak literatur disebutkan, bahwa jarak maksimum IP camera adalah 100 meter, sama dengan perangkat IP lainnya. Oleh karenanya, jika jarak camera kita kurang dari itu, maka tidak ada masalah. Namun, jika ada titik camera yang melebihi jarak itu, maka kita memerlukan apa yang disebut dengan IP extender.
  • Jumlah Camera, Faktor kedua adalah jumlah camera. Jika kita hanya memasang satu atau dua camera saja, maka dalam banyak hal, camera tersebut bisa diikutkan langsung ke network switch yang sudah ada, baik di kantor maupun rumah. Seperti diketahui, umumnya network switch memiliki spesifikasi 100 Mbps, sementara IP camera rata-rata memakan 0.2 hingga 2 Mbps. Jadi, beberapa IP camera masih bisa “diangkut” dengan aman melalui infrastruktur jaringan yang ada. Namun, bagaimanakah jika IP camera yang akan dipasang jumlahnya banyak? Untuk itu disarankan agar kita membuat jaringan sendiri, terpisah dari jaringan yang ada. Artinya, membeli lagi network switch yang baru untuk keperluan IP camera. Ini tak ubahnya bagaikan jalur kereta api. Jika satu jalur sudah padat, maka kita tinggal membuat lagi jalur baru, demikian seterusnya. Pada aplikasi perkantoran atau perusahaan, mungkin kita memerlukan apa yang disebut dengan Gigabit Ethernet, yaitu network switch berkecepatan 1000 Mbps (10 kali lipat dari yang biasa). Kabar baiknya adalah harga perangkat ini relatif murah.
  • Power, Salah satu kelebihan lain dari IP camera adalah kesederhanaan instalasi. Cukup bentangkan seutas kabel UTP, crimping kedua ujungnya dengan connector RJ-45, beres! Soal power kita tidak perlu repot, karena ada dua teknik yang bisa dipakai. Silakan buka kembali uraian kami seputar PoE di sini.
  • Live View, Kebanyakan pengguna camera CCTV menginginkan tampilan yang benar-benar real, tanpa patah-patah. Ini bukan persoalan bagi camera analog, tetapi bisa menjadi prahara bagi IP cam. Biang keladi dari semua masalah pada IP cam adalah soal bandwidth. Tapi, sekali kita mengerti duduk persoalannya dan bisa pula menyiasatinya, maka instalasi IP camera benar-benar merupakan pekerjaan yang menyenangkan.
  • Recording, Seperti diketahui, perekaman pada camera analog dilakukan oleh DVR (digital video recorder), sedangkan pada IP camera dilakukan oleh apa yang disebut dengan NVR (network video recorder). NVR ini ada yang berupa perangkat keras mirip dengan DVR, ada pula yang “hanya” berupa program (software). Perbedaan antara keduanya berkaitan dengan dimanakah hard disk disimpan. Pada NVR tipe perangkat keras, hard disk disimpan di dalam unit itu sendiri. Sedangkan pada NVR yang berupa software, tentu saja hard disk-nya dipasang  di dalam komputer (PC).